Sep/090
When rock melt in electronic: Dead by Grey
Grey terbentuk di pinggiran kota Bandung (baca: Jatinangor) akhir tahun 2004 sampai awal 2005. Berawal dari ide Dede (vokalis & gitaris dari Sunblind, sastrawan kondang, serta wartawan terkemuka ibukota) dan Nanda (drummer dari Junkhead) yang kebetulan juga adalah teman kuliah satu kampus di Fakultas Sastra Unpad, untuk membuat sebuah proyek band elektronik yang tentunya banyak memakai unsur bunyi-bunyian dan sample-sample elektronik. Dan semua ini bertolak belakang dengan latar belakang musikalitas mereka yang sebelumnya, yakni musik rock.
Grey sendiri merupakan alumni Friday I’m in Loops, event yang digelar If Venue pada Juli 2005 lalu, bersama-sama dengan BottleSmoker, Denda Omnivora, Cardinale, Fantastic June, Groupie Daylight, serta beberapa band bertalenta lain yang seangkatan dan terbilang veteran. Friday I’m in Loop pun pada waktu itu rencananya akan dibuatkan album kompilasinya, namun sayangnya rencana tersebut belum terealisasi hingga saat ini.
Oke, saatnya masuk dalam karya mereka. Sebuah mini album bertajuk Dead berisi 4 track maut yang siap meledak di telingamu. Track pertama berjudul Contra Guitar (Electric Love), lagu yang bertipikal nyaris IDM tapi dengan balutan beat yang tidak begitu kompleks ditambah suara vokal malas-malasan sehingga lagu ini terkesan desperate, namun beat yang uplifting membuat saya bergoyang juga pada akhirnya. Masuk ke track selanjutnya, Eksplorasi Ruang Pikiran, unsur rock mulai terdengar kental, terutama pada suara vokalnya, didukung suara bassline, efek, dan pattern loopnya yang cepat. Grey juga menggunakan vocoder yang terdengar di akhir lagu. Di track ketiga, Kosmik, Grey memainkan lagu instrumental yang betul-betul kosmikal, ditandai dari bebunyian gitar yang terdengar satir diselingi suara beat yang tanpa kompromi. Track penutup, Transisi, adalah satu-satunya lagu yang ditulis oleh Dede dan dalam lagu ini tempo mulai menurun. Masih dengan kesan gelapnya, awal lagu berjalan mengingatkan saya pada karya-karya Homicide, namun tanpa rap tentunya. Sesuatu menarik perhatian saya di tengah lagu, transisi atmosfir menuju titik cerah terjadi, walaupun sampai lagu berakhir tidak kunjung happy ending.
Secara keseluruhan, komposisi musik terbilang baik, begitu pula musikalitasnya. Band yang terinspirasi oleh Orbital, Crystal Method, Nine Inch Nails, Underworld, sampai Prodigy ini menyuguhkan musik rock-electronic era 90′an awal ala mereka sendiri. Oh ya, Grey juga merencanakan untuk reuni dan comeback setelah beberapa tahun vakum. Kehadiran mereka kembali di scene indietronic patut dinantikan. Dead EP dapat kamu dapatkan secara gratis hanya di Invasi Records yang secara spesial merilis album ini pada tanggal 9 September ‘09 dengan nomor katalog 009 (9-9-9-9). Silahkan kunjungi halaman rilis untuk mendownload.
Aug/090
Review #1: about Beyond The Sky Compilation
Ada perbedaan yang besar antara genre musik shoegaze dengan electronic, yakni shoegaze bermain dalam lingkup down tempo, distortion, droning riffs, dan wall of sound from noisy guitar, kemudian biasanya dua distorsi rhythm gitar dimainkan secara bersamaan, sedangkan electronic bermain dalam lingkup digitalisme, berkutat pada software komputer, kemudian tidak ada batasan sound quality pada musiknya, termasuk style bermusiknya. Well, perbedaan besar ini tampaknya ingin dikawinkan melalui proyek kompilasi beyond the sky yang terdiri dari dua part ini. Duet 16 band yang termaktub ini benar-benar dinamis memainkan musik shoegaze dan electronica. Coba simak bagaimana shoegaze dieksplorasi dengan post-rock, experimental, juga musik elektronik yg disetubuhi dengan ambient, electroacoustic. membuat kompilasi ini bukan kompilasi shoegaze-electronic biasa. Yang jelas kompilasi ini cukup mencerahkan alam pikiran saya akan bagaimana sebenarnya shoegaze-electronic dimainkan. Beberapa band yang cukup membuat saya orgasme adalah Ansaphone, Marche La Void, Amanda oh Amanda, dan Midnight Ark. Mudah-mudahan kompilasi ini bisa memberi angin segar scene indie shoegaze-electronic lokal.
reviewed by rendypop from terkuburhidup records
Jul/091
Beyond The Sky on Wasted Rockers!
Adi dari Invasi Records pun baru notice kalau ternyata Wasted Rockers yang dikomandoi Dede yang mengaku sebagai buruh Wasted Rockers sekaligus member dari sebuah band yang mengusung genre “Musik Cepat” (begitu para awak Invasi Records menyebutnya -red) betul-betul rock (you rock, guys!).
Wasted Rockers merupakan salah satu media informasi elektronik yang membahas seputar musik indie terutama dalam negeri, dengan berita-beritanya yang selalu update menjadikan Wasted Rockers sebagai sarana gosip yang sip, maksud kami kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan, oleh Dede sendiri tentunya.
Pada pertengahan Juli ini, Wasted Rockers memuat news tentang kami beserta kompilasi terbaru kami, Beyond The Sky. Tidak hanya itu, Wasted Rockers pun meliput berita terbaru tentang band-band indie lokal, video, dan gig reports seperti acara Hits The Switch #1 yang lalu, tidak lupa disertai foto-foto yang artistik nan ciamik.
So, bagi kamu penikmat musik indie di seluruh tanah air, jangan sampai kamu ketinggalan berita tentang perkembangan scene indie di negeri sendiri. Caranya gimana? Silahkan kunjungi www.wastedrockers.com sekarang juga.
Jul/0926
Beyond The Sky: big things from us!
Share and Enjoy :
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
: 

Beyond the Sky adalah album kompilasi kedua yang kami rilis setelah First Impression, merupakan sesuatu yang sangat spesial dari kami. Beyond The Sky berisi 16 track yang telah kami seleksi cukup lama. Band-band yang berpartisipasi dalam kompilasi ini merupakan band yang berasal dari berbagai daerah, antara lain Ansaphone (Bandung), Korine Conception (Medan), Individual Life (Jogja), Autumn Ode (Bandung), Marche La Void (Jakarta), Retrieval (Bandung), Under The Big Bright Yellow Sun (Bandung), Stellarium (Singapore), Midnight Ark (Jakarta), Mataharibisu (Jakarta), Slylab (Bandung), Channelpain (Jakarta), Amanda oh Amanda (Jakarta), Little Space Donkey (Jakarta), Summer in Berlin (Jakarta), dan Folkaholic (Jakarta). Kompilasi dibagi menjadi 2 part. Bagian pertama adalah band-band yang mewakili genre shoegaze, post-rock, experimental, sedangkan bagian kedua merupakan band-band yang mewakili genre electronic, electroacoustic, ambient, dan down-tempo. Alasan untuk membagi menjadi dua bagian adalah ukuran file yang terlalu besar apabila disatukan, sehingga kami memutuskan untuk membaginya menjadi dua bagian. Kami menyadari Beyond The Sky masih jauh dari sempurna, namun kami telah berusaha dengan maksimal, dan album ini sangat layak untuk kamu peroleh. Sebagai gambaran, kami akan memaparkan secara umum isi dari kompilasi ini.
Beyond The Sky diawali oleh lagu dari Ansaphone berjudul Raindrop (6:20), yang dibuat oleh Jajat pada tahun 2007, merupakan lagu versi final yang telah berubah jauh dari versi awalnya menjadi lebih gelap, bercerita tentang transisi hidup seseorang, seperti harus memulai sesuatu yang belum pernah dilakukan dan mungkin pada awalnya terasa aneh dengan hal-hal yang dilakukan tersebut. Saya sangat menyukai lagu ini, terutama di bagian gitar dan vokalnya yang khas. Kamu wajib mendengar yang satu ini dan merasakan sendiri atmosfer Raindrop. Saya yakin Ansaphone akan terus berkembang dan menjadi besar. Lagu kedua merupakan lagu dari Korine Conception berjudul Lost Imaginary (4:41). Korine Conception adalah salah satu band yang sudah tidak asing dalam scene indie Medan. Lost Imaginary ditulis oleh seluruh personil Korine Conception dengan lama pembuatan lagu sekitar 2 minggu, merupakan lagu instrumental yang diciptakan dua tahun yang lalu. Citra dari Korine Conception mengatakan kalau Lost imaginary terinspirasi dari lagu-lagu Cocteau Twins, Mallory, dan Blueboy. Di track ketiga, Individual Life membawakan lagu Paripurna (7:51) yang dibuat khusus untuk kompilasi ini, memakan waktu take selama sekitar 2 minggu dan merupakan track baru yang diserahkan beberapa minggu sebelum kompilasi rilis. Erric dari Individual Life berujar bahwa paripurna berarti situasi akhir yang paling besar, namun Paripurna adalah awal dari sesuatu yang besar dengan konsep WeLiveIndividualLife yang bermakna tujuan hidup kita adalah individual life atau diri kita sendiri. Paripurna adalah track dengan durasi terpanjang dalam kompilasi ini dan Paripurna dapat mempermainkan emosimu saat mendengarnya. Two thumbs up untuk Individual Life. Setelah Paripurna, berlanjut pada track keempat dari Autumn Ode berjudul A Myriad Ways to Abduct and Thurst You In (6:51). Inspirasi lagu didapat dari pengalaman pribadi salah satu personil Autumn Ode, Riznan, tentang pengkhianat yang berada di sekitar dia yang tak berdaya, well cukup berat memang, tapi nikmatilah track ini agar kamu dapat merasakan pahitnya pengkhianatan.
Track kelima dibawakan oleh Marche La Void (MLV) berjudul Scientific Despair (5:29) yang diambil dari mini album mereka, Cacophonia. Kamu boleh menyebut MLV shoegaze, psychedelic atau apapun itu, namun yang pasti mereka masih tetap pada ciri khas musik mereka yang sangat despair, gelap, dan cenderung galau. Scientific despair dibuat selama kurang lebih 3 bulan dan ditulis bersama oleh personil MLV, adalah lagu yang melatarbelakangi tentang bagaimana memformulasikan rasa sedih agar rasional dan dimengerti dimata intelektual. Saya harap kamu tidak mencoba melakukan bunuh diri ketika mendengar lagu ini. Di track keenam ada Retrieval dengan lagu Temporary Soda (2:51) yang ditulis oleh Aldrin, menyorot sisi humanis dari artis film yang hidupnya tertekan dalam kepura-puraan. Proses recording lagu berjalan relatif singkat karena hanya semalam, luar biasa memang Retrieval. Temporary Soda terdengar tidak kalah gelap dari Scientific Despair dan yang paling terdengar mencolok adalah suara gitarnya yang memasukkan sedikit unsur etnik dengan kekuatan lagu yang terletak pada suara vokal yang berbisik. Track ketujuh merupakan Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) dengan lagunya Happiness Between Us (5:00). Happiness Between Us menurut saya merupakan satu-satunya lagu dengan mood cerah dalam Beyond The Sky part pertama ini, yang bisa kamu ketahui hanya dengan mengartikan judulnya. Happiness Between Us menggambarkan tentang indahnya hidup saat kita bisa berbagi dengan seseorang atau sesuatu yang kita anggap sangat berarti dalam hidup. UTBBYS juga membuat lagu ini sebagai kritik sosial terhadap masyarakat tentang kekayaan yang menjadi tolak ukur kebahagiaan. Lagu ini juga terinspirasi oleh film Into The Wild sementara proses penggarapan lagu dilakukan bersama oleh UTBBYS. Di track kedelapan, kami menghadirkan Stellarium, band shoegaze noise yang berasal dari negara tetangga dengan lagunya Tomorrow’s Monday (5:08). Lagu Tomorrow’s Monday mungkin terasa aneh saat pertama kali kamu dengar, karena suara noise dan distorsi yang begitu besar, namun memang begitulah ciri khas Stellarium, sangat menarik. Mungkin kamu mempunyai anggapan tersendiri tentang musik mereka?
Beralih pada bagian kedua kompilasi Beyond The Sky atau tepatnya pada track kesembilan, duo elektronik asal Jakarta, Midnight Ark yang beranggotakan R.Perdana dan Pramesti P.P. membawakan Moonlight Symphony (5:08). Moonlight Symphony menggambarkan tentang suasana malam yang cerah saat kita berbaring di padang rumput diterangi sinar bulan. Lagu ini dibuat dalam waktu 2 minggu oleh kedua personilnya yang mengaku suka berkeliaran saat tengah malam. Midnight Ark terinspirasi dari band-band seperti Air dan The Album Leaf yang lagunya bertipe healing, down-tempo. Kekuatan musik terdengar dari string, beat drum, dan orkestra yang atmosferik. Selanjutnya di track kesepuluh ada Mataharibisu, project duo Aga Rasyidi dan Yudistira Abjani yang membawakan lagu Vanish and Disappear (4:23) kembali membawa kedalam suasana sedikit gelap karena menceritakan tentang pengalaman pribadi dari Aga yang kehilangan temannya dengan tiba-tiba. Lagu dengan ambient yang mengena ini mengingatkan saya pada Sigur Ros, terutama saat mendengar suara pianonya, tentu saja karena mereka terinspirasi Sigur Ros dan M83. Berlanjut pada track sebelas, Slylab yang dimotori oleh Deon beserta personil lainnya membawakan lagu berjudul The Sound of Perfume (6:02) yang dilatarbelakangi oleh kamuflase, perumpamaan dimana seseorang menggunakan perfum hanya untuk mentupi baunya. Lagu mengingatkan saya pada sebuah novel dan juga film Perfume. Lagu dengan unsur elektronik yang cukup kental dan glitchy sepintas mengingatkan saya pada lagu-lagu Telefon Tel Aviv yang mungkin menjadi inspirasi Slylab. Pada track keduabelas, Channelpain yang notabene adalah project solo Willman, membawakan lagu berjudul A Dying Wish (4:49) yang dari judulnya mungkin kamu berpikir bahwa lagu ini menggambarkan seseorang yang sudah bosan hidup, maka tidak heran jika atmosfer lagu ini cukup gelap dengan hentakan beat drum dan suara-suara alarm. Willman mengatakan bahwa singkatnya lagu ini menceritakan tentang do’a-do’a manusia yang tidak selalu dikabulkan. Wow ngeri nih.
Di track ketigabelas, Amanda Oh Amanda dengan tembangnya Go Home Now (4:14). Go Home Now bercerita tentang kematian seseorang dan Krisna mendedikasikan lagu ini untuk seseorang yang telah kehilangan ayah dan kekasihnya yang meninggal akibat kecelakaan. Go Home Now bermakna pulang, benar-benar pulang dan tidak pernah kembali. Suara organ dalam lagu ini terdengar menyayat, membuat mood sedih tercipta. Untuk kemudian kembali cerah, di track keempatbelas Little Space Donkey (LSD) membawakan Eleven Brave Warrior On That Field (5:14). Lagu ini menceritakan tentang perjuangan dari sebelas orang pemain klub sepak bola gurem di sebuah negara yang sangat mengagungkan olahraga tersebut, tetapi dipenuhi oleh pejabat yang hanya ingin mengeruk keuntungan dari olahraga itu. Saya jadi ingat negara sendiri. Eleven Brave Warrior On That Field merupakan lagu dengan tempo cepat dan LSD memasukkan nada-nada pentatonik dalam komposisi lagunya. Saat kamu membutuhkan track yang groovy dan catchy, di track kelimabelas hadir kembali Summer in Berlin dengan lagunya berjudul Unperfect Song (4:41). Well, apalagi yang dapat saya katakan selain sangat menarik. Pada awalnya saya pikir Unperfect Song akan mirip dengan lagu Night Train yang masuk dalam kompilasi First Impression, namun anggapan saya salah. Summer in Berlin sedikit memadukan unsur jazz dan elektronik sehingga terdengar seperti nu-jazz dalam scene shibuya-kei walaupun Ian membantahnya dan menyebutkan kalau lagu ini terinspirasi dari keadaan pagi hari yang bertemakan tentang keindahan dari ketidaksempurnaan, segala kemungkinan dari kemustahilan, dan pemikiran positif tentang segala bentuk kehidupan, dibuat oleh sang mastermind Lily dalam waktu sehari walau sebenarnya tercipta saat Ian sedang lari pagi sambil cuci mata berburu wanita karir yang juga melakukan aktivitas sama. Berat nih. Di track penutup, Bung Tomo yang bukan pahlawan nasional beserta Harriz yang keduanya tergabung dalam Folkaholic membawakan track electroacoustic yang indah nian berjudul October Sky (4:42). October Sky menggambarkan tentang seorang anak yang tanpa asa duduk di tepi pantai kala senja menyambut matahari yang beristirahat di ufuk timur pada bulan Oktober ditemani suara desiran ombak. Lagu dibuat oleh kedua personil dalam waktu yang relatif singkat, dua hari. Suara deburan ombak dan petikan gitar dalam lagu October Sky ini membuat saya rileks dan cocok dijadikan sebagai lagu pengantar tidur.
Jul/092
From electric with love: Electricspacelove by Electrical Address
Pada rilisan untuk bulan Juli ini, Invasi Records menghadirkan sebuah band electropop asal Semarang, Electrical Address yang digawangi trio Nicko (programmer & synthesizer), Galih (vokal), dan Rio (backing vocal & synth). Electrical Address yang terinspirasi oleh keadaan luar angkasa beserta makhluk-makhluknya ini melakukan proses rekaman di home studio Nicko dan hasilnya tidak mengecewakan.
Secara musikalitas, Electrical Address memiliki kelebihan dalam musiknya yang catchy dan ceria, seperti band-band elektronik yang beberapa waktu lalu booming dengan rata-rata pendengar berumur belasan tahun, ditambah secara lirikal mereka membawakan lagu-lagu bertemakan cinta. Namun teknik vokal Electrical Address yang terdengar datar khas band selamat malam elektrik sempat membuat kami gundah, apakah memang disengaja seperti itu atau tidak, tapi ternyata memang seperti itulah.
Track favorit saya adalah track pembuka bertajuk Travolution yang juga menjadi hits mereka. Sementara track-track lainnya seperti You’r My Suplement, Electricspacelove, dan Electrolove masih serupa namun dengan mood yang berbeda. Electrical Address juga menambahkan lagu-lagu instrumental dalam album ini, antara lain pada track Instrumentality, Be With You, dan Amplifier yang semuanya terdengar kosmikal. Tidak lupa mereka juga membawakan sebuah lagu versi elektronik dari The Cure, apalagi kalau bukan tembang kenangan Boys Don’t Cry yang dapat kamu bandingkan dengan versi aslinya.
Lagu Electrical Address termasuk dalam kategori dance music yang nyaris menyentuh eurodisco walaupun masih beberapa ribu kilometer lagi. Oleh karena itu bagi kamu yang senang menari, headbanging, atau bahkan pogo dan circle pit di kamar mandi, silahkan putar musik mereka sekencang-kencangnya apabila sedang kebelet untuk disko dirumah maupun disko darurat. EP Electrical Address diperuntukkan bagi kamu yang menikmati band semacam Goodnight Electric dan sejenisnya. Rilisan ini dapat diperoleh secara gratis di halaman rilis. Love fool, the disco ball always ask me to come to dance, to dance.
Jun/091
Being dark is a choice: Hidupku Sesudah Matiku by Channelpain
Willman dengan project solonya bernama Channelpain, bereksperimen dengan musik electronic ambient yang dicampur dengan dark wave, hasilnya karya-karya Channelpain dalam album Hidupku Sesudah Matiku terkesan galau, namun disinilah letak kekuatannya. Musik Channelpain lebih terdengar dewasa dibandingkan dengan band elektronik lain, yang pada umumnya menonjolkan sisi keceriaan dalam musiknya.
Dalam albumnya ini, Channelpain mencoba mengangkat tema tentang kehidupan setelah kematian, yang pada intinya kita tidaklah abadi hidup di dunia ini dan tidak ada sesuatu yang abadi, apa yang disampaikan Wilman dapat kamu simak antara lain dalam track Don’t Be Long dan track yang menjadi judul EP ini sendiri, Hidupku Sesudah Matiku.
Pada track End Of Green yang makna sebenarnya luas, Willman menegaskan bahwa track ini menceritakan keadaan dunia serta ketakutan yang ditimbulkan, yaitu dimana dunia menjadi tidak hijau lagi. Sementara track Never Know bermakna kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi. Track favorit saya dalam album ini merupakan track penutup berjudul What Goes. Dalam track ini Willman berkolaborasi dengan musisi Amerika, Dae Noctem dari Era Nocturna. Willman memberikan kepercayaan pada Dae Noctem untuk vokal dan liriknya, sedangkan arransemen musik seluruhnya digarap oleh Willman sendiri.
Bagi kamu penikmat band-band semacam Kubik, maka kamu sangat direkomendasikan untuk memiliki album ini. EP Hidupku Sesudah Matiku dapat kamu dapatkan di halaman rilis secara gratis dan rasakan sendiri atmosfir gelap Channelpain.
Jun/091
This is the only way: Elec-troduce by Kevinkatagawa
Kevinkatagawa bukanlah nama orang Jepang, melainkan solo project Yudi, seorang warga negara Indonesia yang saat ini tinggal di benua dibawah. Kevinkatagawa memainkan musik elektronik dengan bantuan instrumen digital maupun analog.
Sebuah mini album Kevinkatagawa yang kami rilis berjudul Elec-troduce, terdiri dari 4 track. Setelah menyimak lagu-lagu Kevinkatagawa, dalam lagunya Yudi memadukan unsur electropop dan ambient. Komposisi lagu sudah terbilang cukup baik secara keseluruhan. Lagu-lagu dalam album Elec-troduce walaupun terdengar naif namun memiliki soundscape yang cukup kental, seperti dalam track berjudul Tranz Machine Operator. Dalam dua tracknya Yudi pun menambahkan vokal khas yang bindeng, kamu bisa mendengarnya pada Re-pollution dan Secret Of Life. Di track penutup, Last Electronic Circuit adalah yang paling menarik bagi saya, dengan glitchy beat dan catchy string, lagu ini sekilas terdengar seperti lagu-lagu Telefon Tel Aviv di awal kemunculannya.
Download mini album Kevinkatagawa secara gratis di halaman rilis. Bagi kamu penikmat Pet Shop Boys, Plastic Operator, ataupun Styrofoam, maka Electroduce wajib ada dalam playlistmu. Enjoy!
Jun/092
Peruvian electronics: Autobolido s/t
Rilisan ketiga Invasi Records merupakan sebuah album dari project bernama Autobolido. Adalah Luis Astudillo, seorang Peruvian dan satu-satunya personil Autobolido. Luis memainkan musik dengan menggunakan software. Awal mulanya kami merasa penasaran saat kami menerima kiriman demo dari beliau, setelah kami dengarkan, ternyata Autobolido memainkan musik electro/ambient. Kami mencoba objektif sehingga kami dapat menyimpulkan bahwa musisi dalam negeri memiliki kualitas yang lebih baik. Mengapa? Jujur saja, musik Autobolido bagi saya terdengar monoton. Suara yang dihasilkan sangat familiar karena software yang beliau gunakan terlalu standar.
Album yang berjudul sama dengan nama projectnya ini terdiri dari 8 track dan dapat kamu peroleh di halaman rilis website. Mungkin kamu juga penasaran ingin mendengar sampai sejauh mana musikalitas artis Peru? Silahkan dengar dan bandingkan sendiri dengan artis indie lokal. Kualitas musik kita tidak kalah, bahkan jauh lebih baik. Merdeka!
Jun/090
New wave? Who don’t cares!: 90’s Attack by DSD
Mungkin kamu pernah mengalami suatu masa dimana band-band macam New Order atau Human League berjaya? Jika ya, berarti kamu pernah hidup di zaman 80an ketika new wave/post punk sedang berkembang pesat. Dear Switcher Disco (DSD) mencoba menghadirkan kembali nuansa pada masa itu melalui lagu-lagunya. DSD yang dibesut trio Randy, Chris, dan Rocky mengaku terinspirasi dari Duran Duran, Beastie Boys, sampai Ikang Fauzi dan Fariz RM. DSD memiliki ciri khas pada karakter beat dan suara keyboard yang benar-benar mengingatkan kita pada musik-musik 80’s disco. Tentu saja.
Walaupun judul EP mereka 90’s Attack, namun menurut saya gaya musik mereka lebih condong ke era 80an akhir, coba saja dengar beberapa karya mereka semisal 90’s Attack atau Romansa Lisa. Sejak awal lagu diputar suasana 80an begitu terasa, dimana lagu-lagu classic disco diputar diiringi breakdance diatas dancefloor, cocok untuk kamu yang sering melakukan senam pagi ataupun sekedar bernostalgia. Lagu DSD rasanya cocok jika dijadikan soundtrack film Catatan Si Boy yang mungkin pernah kamu tonton di masa silam, sangat disayangkan pada saat itu trio Randy, Chris, dan Rocky belum terpikir untuk membidani DSD. Tentu saja.
Mini album 90’s Attack dapat kamu download secara cuma-cuma di halaman rilis website ini. Sangat dianjurkan untuk dikoleksi, agar kamu dapat bercerita pada anak cucumu bagaimana classic disco pernah eksis di muka bumi ini. Oh ya, selain 3 lagu gubahan sendiri, mereka juga membawakan sebuah lagu cover yang tak diragukan lagi merupakan tembang evergreen dari New Order, ya apalagi kalu bukan Bizzare Love Triangle. Coba kamu bandingkan dengan versi aslinya, menarik bukan? Tentu saja.
Jun/090
First Impression, still from the earth to the moon
First Impression merupakan album kompilasi sekaligus rilisan perdana dari Invasi Records, yang awalnya berisi 11 track, namun banyak menuai kritik sehingga kami memutuskan untuk menyeleksi ulang album ini dengan memilah kembali track yang layak masuk, membatasi maksimal 9 track per album, dan akhirnya merilis versi re-issue dengan kualitas (sedikit) lebih baik.
Band yang berpartisipasi dalam album ini antara lain Ritmesemu, duo asal Kota Semarang yang saat ini entah dimana rimbanya. Brahma dan Baihakki menyumbangkan sebuah lagu yang terdengar melankolis dengan lirik yang dalam. Berikutnya ada Elemental Gaze, band asal Bandung yang mungkin sudah tidak asing lagi ditelingamu karena mereka sering perform di gigs lokal dan telah melakukan tur sampai mancanegara yang kini dimotori oleh Bilan dan Lutfi setelah ditinggal salah satu personilnya, mereka mengirimkan salah satu tracknya khusus untuk Invasi Records. Track selanjutnya dibawakan oleh Sunday Night Joy, band asal Bandung yang kini sedang “mati suri” akibat komputer dari sang mastermind Caesar dan teman-temannya raib entah kemana. Lagi-lagi dari Bandung, duo Angkuy Kay dan Nobie yang tergabung dalam BottleSmoker turut berpartisipasi dalam kompilasi ini. Mereka dikenal sebagai casiopop band yang memiliki reputasi baik dalam scene elektronik lokal. Masih dari Bandung, band shoegaze JellyBelly yang digawangi Aduy dan teman-teman membawakan lagu yang dreamy dalam kompilasi ini.
Beralih ke ibukota, Summer in Berlin, adalah duo Ian dan Lily yang juga sudah terkenal di scene indietronic Jakarta membawakan lagu kereta malam yang terdengar ambient dan cukup gelap. Lalu ada juga Sarin yang beranggotakan Ipung dkk. mengirimkan lagu beraliran post-rock/experimental, disusul oleh Midnight Ark, band elektronik asal Jakarta yang merupakan duo project R.Perdana dan Pramesti yang terbilang pendatang baru namun cukup impresif. Terakhir ada Fisikamatematika yang dikenal dengan sebutan Fisma, bukanlah mata pelajaran melainkan duet antara Mr.Gepenc dan Noorichwan yang digila-gilai oleh fansnya, membawakan lagu electro upbeat yang sarat akan kritik dalam album ini.
First Impression dapat kamu peroleh secara gratis disini. Secara kualitas sound dalam kompilasi ini masih ada beberapa kekurangan. Umumnya para pendengar komplain tentang sound balance, namun secara musikalitas kami anggap layak untuk rilis. Selamat menikmati.
